Bandara Halim dipaksakan jadi penampungan penerbangan komersial

6 Des

Image

Sudah sejak Oktober lalu aktivitas renovasi bandara milik TNI Angkatan Udara itu dilakukan. Targetnya, sebelum tutup tahun, bandara ini sudah siap untuk menjadi bandara komersil.

Renovasi Bandara Halim dilakukan seiring dengan keputusan pemerintah dan otoritas bandara memindahkan 64 penerbangan komersial dari Bandar Udara Soekarno-Hatta itu ke Halim Perdanakusuma. Bandara Halim efektif menjadi bandara komersial terhitung mulai 10 Januari 2014. Maskapai yang bersiap memindahkan sebagian rute ke Halim antara lain Citilink, Garuda, Kalstar, Sky, AirAsia, Jatayu, Lion/Batik Air, Tigerair Mandala, dan Sriwijaya Air.

Namun, segudang masalah masih membayangi kesiapan bandara Halim menjadi bandara komersial, mulai dari daya tampung penumpang yang maksimal 600 orang per hari, tempat parkir pesawat yang terbatas lantaran di Bandara Halim terdapat beberapa pesawat pribadi dan sewa yang selama beberapa tahun terakhir jadi lokasi penerbangan pribadi konglomerat dan perusahaan besar.

Tidak hanya itu, keberadaan pesawat kecil milik beberapa sekolah penerbangan juga masih menjadi PR pemerintah dan Angkasa Pura. Jumlahnya ada puluhan, menghabiskan jatah dua slot apron atau lahan parkir pesawat. Sekarang ada tujuh sekolah penerbangan yang beroperasi dan memarkir pesawat di Halim. Di antaranya adalah Alfa Flying School, Deraya, dan Sekolah Pilot DSF.

Pemindahan itu dipercaya Iwan bisa membuat ruang parkir lebih lega saat ada penerbangan komersial. Apalagi rencananya, akan ada 36 flight komersial dijalankan saban hari mulai awal tahun depan.

Dari kondisi itu, penggunaan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara komersial seolah dipaksakan. Kementerian Perhubungan dan Angkasa Pura tidak punya pilihan lain untuk solusi jangka pendek mengurangi padatnya Bandara Soekarno-Hatta.

“Iya memang begitu, tapi ini kan sementara. Semua masalah yang masih ada itu sudah kami pertimbangkan. Kondisi (ketidaksiapan halim) sudah kami ketahui. Ini kan tujuannya hanya mengalihkan sedikit penerbangan di waktu yang padat di Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan kepada merdeka.com, Kamis (5/12) malam.

Kebijakan ini diperkirakan baru mengurangi 5 persen penerbangan di Bandara Cengkareng. Jika kapasitas Halim dimaksimalkan, Angkasa Pura II memprediksi hanya bisa menampung 10 persen pemindahan penerbangan dari Soekarno-Hatta.

“Ya 10 persen kalau yang dikurangi penerbangan di waktu yang padat kan cukup signfikan. Karena di Bandara Soekarno Hatta itu, penerbangan yang dialihkan ke Halim adalah penerbangan di waktu yang padat,” tegasnya.

Image

Dia menegaskan, kebijakan ini merupakan langkah efektif yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Pemerintah punya skenario jangka menengah dan jangka panjang untuk mengurangi beban kesibukan Bandara Soekarno Hatta. “Nantinya kita akan tetap mengevaluasi kembali,” ucapnya.

Pandangan serupa pernah disampaikan pengamat penerbangan Alvin Lie. Menurutnya, keputusan pemerintah dan otoritas bandara mengalihkan beberapa penerbangan ke Bandara Halim bukan keputusan ideal. “Tidak ideal tapi pemerintah tidak punya pilihan lain,” ucap Alvin beberapa waktu lalu.

General Manager Halim Perdanakusuma Iwan Khrishadianto menegaskan, renovasi mutlak dilakukan sebagai kesiapan Halim menjadi bandara komersial. Salah satu yang direnovasi adalah lokasi ruang tunggu di bandara yang berdiri pada 1974. Ruang tunggu bakal diperluas. “Untuk renovasi yang kita lakukan cukup besar, misalnya mengubah ruang tunggu yang tadinya 2 gate, jadi 3 gate, sehingga bisa menampung 3 flight setiap jam,” tuturnya.

Selain kapasitas ruang tunggu untuk boarding, Angkasa Pura II juga memperluas sistem check in area jadi 6X15 meter persegi. Iwan mengatakan, loket tiket juga dihilangkan, mengikuti format seperti Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara.”Kita membangun ticketing lounge. Nantinya seperti di Kuala Namu, jadi tidak ada loket tiket,” kata Iwan.

Otoritas bandara juga sudah melakukan pembicaraan dengan pihak TNI AU terkait pembagian waktu dengan jadwal TNI. Dari pembahasan sementara, TNI AU meminta jatah khusus untuk jam-jam tertentu. Yakni 2 flight pukul 06.00-12.00, 3 flight pada pukul 12.00-18.00, dan 2 flight pukul 18.00-21.00. Tidak hanya itu, jadwal terbang pesawat pribadi (unscheduled) atau pesawat sewa juga akan dikurangi. Sebelum ada pemindahan ini, sehari AP II melayani 40 flight penerbangan pribadi.

merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: