Bos Garuda Bicara Soal Harga Avtur RI Lebih Mahal dari Thailand dan Singapura

20 Nov

avtur

Selain membicarakan hubungan business to business antara sesama maskapai penerbangan se Asia-Pasifik atau Association of Asia Pasific Airlines (AAPA), Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Emirsyah Satar mengungkapkan rasa keberatannya atas harga bahan bakar avtur di Indonesia yang lebih mahal.Padahal di negara tetangga seperti Singapura dan Thailand justru harga yang ditawarkan jauh lebih murah. Sayangnya hal ini tidak dibahas secara rinci di Konferensi AAPA ke 58 di kota Tokyo, Jepang.

“Belum lagi biaya avtur kita yang lebih tinggi. Harga avtur di Jakarta lebih mahal 18% dibandingkan harga avtur di Singapura dan Bangkok (Thailand),” keluh Emir saat ditemui di sela-sela acara AAPA di Imperial Hotel, Tokyo, Jepang, Rabu (19/11/2014).Ia menghitung dengan biaya avtur lebih mahal 18%, biaya operasional pesawat Garuda Indonesia tambah 7,2%. Menurutnya biaya avtur menyumbang 40-50% dari biaya operasional pesawat secara keseluruhan. Per tahun Garuda Indonesia membutuhkan setidaknya 1,8 miliar liter avtur.

“Biaya avturnya lebih tinggi 18%. Bayangkan saja, cost airlines untuk bayar avtur 40-50%, jadi kalau 18% dari 40% saja ongkos operasional kita lebih mahal 7,2%. Bayangkan 7,2%, margin airlines 4% saja tidak sampai,” paparnya.Ia menyarankan kepada pemerintah agar pemasok avtur di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh satu perusahaan saja. Melihat negara lain seperti di Singapura, distributor avtur ke maskapai cukup banyak.”Menurut saya adanya kompetisi itu bagus,” cetusnya.

Di tempat yang sama EVP Human Capital & Corporate Affairs Garuda Hariyanto Agung Putra membenarkan jika harga avtur di dalam negeri jauh lebih mahal dibandingkan Singapura dan Bangkok.Ia menjelaskan harga avtur keekonomian saat ini US$ sen 62,77 per liter sedangkan di Indonesia khususnya di Jakarta saja, harga avtur sudah mencapai US$ sen 74 per liter. Makin ke Timur Indonesia harga avtur semakin mahal karena keterbatasan infrastruktur.

“Kita ini masih terbatas masalah infrastruktur. Kalau beda harga tadi lalu dikalikan kebutuhan kita per tahun saja, itu sudah berapa? Perlu juga ada kompetitor. Di Singapura ada PSC, Cosmo, Total, dan Shell,” jelas Heriyanto.Tidak hanya itu, Vice President Corporate Communications Garuda Pujobroto mengungkapkan besarnya harga bahan bakar dan lama waktu delay pesawat saat ingin mendarat menambah kerugian yang ditanggung Garuda.

“Kita mempunyai 600 penerbangan per hari itu domestik dan internasional. Average 11 menit saja muter-muter itu kerugian kita Rp 340 miliar per tahun, Itu biaya avtur per tahun, jadi beda sekian sen saja sangat besar,” pungkasnya.

finance.detik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: